Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Thursday, January 22, 2015

Scary Marry


Ada sebuah em mungkin bisa dikatakan sindrom dari para wanita yang takut menghadapi kenyataan pasca menikah. Dulu, pas masa-masa SMA rasanya saya pengen banget nikah, apalagi lihat pasangan ustadz - ustadzah nan sakinah, mawaddah, wa rahmah, uh gemesh deh. So sweet aja gitu membayangkan mereka gandeng-gandengan meniti jembatan shiratal mustaqim, atau bocengan asik di atas kambing yang saat di dunia mereka qurbankan?

Dan saat SMA itulah saya mencanangkan, GUE BAKAL NIKAH MUDA UMUR 20 TAHUN. Yah meskipun belum tau gimana caranya. Harapannya sih ada pangeran berPajero putih yang tiba-tiba dateng ngelamar, terus yakin aja gitu sama saya. Nggak ngelihat muka saya gimana, nggak ngelihat tingkah saya, nggak nanyain hapalan AlQuran saya, harapan saya sih dia rada cinta buta gitu kwak kwak kwak.

Tapi harapan itu kayanya cuma bunga tidur yang langsung layu setelah bangun deh. Sampai saya umur dua puluh, nggak ada tuh ciri-ciri jejaka ngedeketin saya, jangankan yang berPajero putih, yang naik sepeda mini aja kaga ada. Kebanyakan sih secret admirer << ini mah cuma pencitraan aja biar kesannya tetap ada yang mencintai saya meskipun diam-diam dan mungkin bahkan nggak sadar kalau dia sedang mencintai saya ha ha #abaikan.

Waktu bergulir, matahari dan bulan operan jaga. Namun ternyata lama kelamaan, disadari maupun tidak, ada semacam rasa cemas yang menggerogoti relung-relung hati. Apalagi saat siaran saya sering membacakan curhatan dari ibu-ibu yang #duh memilukan banget. Saya sendiri sampai bertanya-tanya, "is it real?" atau ibu itu hanya menceritakan ulang kisah sinetron yang semalam ditontonnya?

Yah mulai dari suami yang selingkuh, minta nikah lagi, nggak menafkahi, sampai suami yang suka nggebukin istri layaknya nggebukin drum.

Ngeri sekali kan teman-teman? Pernikahan macam apa itu?

Dan ternyata kecemasan ini tidak hanya saya alami. Ada beberapa teman juga yang yah mulai rada-rada takut buat menikah - rata-rata perempuan, meskipun nggak sampai bikin kami ogah nikah sih.

Setelah ngobrol ngebrel mengungkapkan semua ketakutan, finally kami sampai pada sebuah kesimpulan. Sekeren apapun suami kita, mau dia ustadz kek, mau dia syaikh sekalipun, dia hanya MANUSIA yang punya peluang buat khilaf. Jadi yah kita memang nggak bisa bergantung pada dia, apalagi kalau timbangan kita di atas 80 bisa ambrol tuh gantungannya ^^v.

Tetep sih sebagai istri nantinya kita harus taat pada suami, selama suaminya nggak ngehe. Tapi untuk bergantung, cuma Allah yang bisa kita harapkan. Dan satu lagi, menilik kasus-kasus yang ada, kok saya prefer untuk perempuan juga tetap bisa mandiri secara finansial ya? Kerja, bukan cuma nadah hasil kerjaan suami. Kita harus bisa saving dari jerih payah kita sendiri, karena kita nggak tau apa yang akan terjadi ke depan. Saudara saya biidznillah ditinggal meninggal suaminya di usia yang relatif muda, baru tigapuluhan, dan dia punya satu anak. Untung saudara saya kerja, jadi dia bisa strugle untuk terus menghidupi diri dan anaknya. Bayar cicilan rumah, nyekolahin anak, nah gimana kalau sodara saya nggak kerja? Ya, kurang kerjaan juga sih sebenernya tanya gimana-gimana, toh kalau nggak kerja Allah juga pasti udah atur. Tapi ya itu tadi ibarat kata kita sedia minyak kapak sebelum masuk angin. Berjaga-jaga kan nggak ada salahnya. Untuk jenis kerjaan ya, ambil yang halal dan thayib dong. Yang nggak menzalimi hak anak dan suami #saelaaah sok teu bener.

Oh iya, selain itu kita juga harus bisa membedakan antara setia dan bego. Kita menikah meskipun isinya nggak cuma hepi-hepi tapi nggak untuk menyiksa diri juga kan? Islam hadir memberikan hak yang luar biasa banyak pada lelaki dan wanita. Islam mengangkat harkat manusia. Kalau suami marah pakai kata-kata yang yaah rada nylekit mungkin masih bisa dimaklumi, masih bisa diajak ngomong baik-baik. Tapi kalau udah mulai nafsu buat nggebukin istri, wah udah nggak bener tuh! Dzalim! Kalau bisa dikomunikasikan dan dia bener-bener janji untuk nggak ngelakuin lagi, okelah kasih kesempatan. Tapi kalau tuman, kalau belum nggebuk belum ngerasa seger, sebagai istri kita harus berani ambil tindakan. Jangan cuma cengo. Kalau kita diem aja bukankah sama halnya dengan kita menyakiti diri sendiri? Nggak boleh loh menyakiti diri sendiri. Bangkit! Tempuh jalur yang baik untuk menyelesaikan masalah.

Akhiru kalam, ini cuma teori, dan ini hanya ungkapan ketakutan dari pengecut-pengecut nikahan macam kami. Selamat pagi.

pict :www.aliexpress.com

Friday, December 26, 2014

Rasanya Luar Biasa


Entah sejak kapan saya mulai mempercayai hal ini. 
Ketika amanah datang kepamu tanpa kamu minta, itu tandanya Allah akan mendidik dan memapukanmu untuk menjalankan amanah tersebut.

Dulu, saat tergabung dalam sebuah organisasi menyenangkan bernama smart syuhada, saya suka kabur dari amanah. Alasan macem-macem, tapi hal paling mendasar mungkin karena saya tidak paham dengan apa yang saya lakukan. Parah banget kan? Keluarnya saya dari smart bikin saya merasa berdosa, karena saya tidak meninggalkan warisan apapun di sana. 

Lalu saya vakum berorganisasi. Buta sama sekali dengan yang namanya dakwah sekolah. Saya sudah sibuk dengan hingar bingar kerjaan. Tapi setiap ketemu temen yang membahas pelajar, rasanya ada sesuatu yang... entahlah bagaimana menyebutnya. Mungkin saya iri, saya ingin terlibat di sana lagi.

Lalu datanglah tawaran itu, dari mbak Maul. Untuk mengonsep sebuah acara puncak SILATNAS FORNUSA  II. Event besar di mana ROHIS-ROHIS dari seluruh Indonesia berkumpul, nah untuk tahun ini Jogja menjadi host nya. Nggak nyangka, karena niat awal saya ketemu mbak Maul hanya untuk ngobrol. Dan nggak kepikiran juga bahwa tawaran ini adalah tawaran serius. Waktu mbak Maul menawarkan itu, yang ada di kepala saya , "Oh, ya apa salahnya toh saya kerja di media, insyaAllah nanti kalau teman-teman butuh link bisa lah dicarikan." Sebatas itu saja.

Sampai akhirnya Iqbal, adeknya mbak Maul mengontak untuk tindak lanjut masalah ini. Loh? Ini beneran saya yang diminta ngonsep? 

Sanggup, nggak ya? Sempat ragu awalnya. Sempat mau ngeles lagi dan merekomendasikan orang lain. Tapi hati kecil menasihati saya, "Bersyukurlah karena Allah menunjuk kamu. Bersyukurlah karena tidak semua orang diijinkan untuk menjalankan amanah ini. Dakwah adalah sebuah kewajiban, banyak orang bingung gimana caranya berdakwah. Nah kamu dimudahkan oleh Allah untuk menjalankan kewajiban, masa mau ditolak?"

Ya sudah, bismillah. Saya nggak punya bekal apa-apa seputar event. Tapi marilah kita belajar bersama di sini. Harapannya sih bisa untuk menebus dosa juga.

Setelah ngobrol dengan teman-teman, akhirnya kepikiranlah satu konsep untuk acara puncak SILATNAS FORNUSA II.

Jujur saya terharu melihat teman-teman berusaha keras mewujudkan konsep itu. Padahal konsepnya rada absurd. Musti ini lah, itu lah. Cost nya juga banyak, tapi mereka berusaha membuat segalanya seperfect mungkin. Di tengah jadwal UTS dan sebagainya :)

Saat ngelihat talent latihan, saat mandu Angger dan Reza baca teks. Rasanya buncah. Dan baru sadar, oh... jadi gini ya rasanya menjalani sesuatu yang kita suka, kita pahami, dan kita tau tujuannya. Nggak capek. Menyenangkan. MasyaAllah.

Yang menegangkan adalah H-1. Ada sebuah properti yang sangat krusial, sayangnya udah cari kemanapun properti itu nggak ketemu. Dan akhirnya, ya... konsep harus diubah. Dalam waktu H- berapa jam. 

Beberapa hal dirombak, termasuk naskah. Kelar siaran saya harus bikin monolog baru. Saat gladi bersih naskah belum rampung, banyak yang tanya kejelasan acara. Dalam hati saya bilang, hanya Allah yang tahu, karena saya sendiri belum punya gambaran :D, maaf.

Malam itu juga naskah harus selesai. Ditemani 34 talent yang memakai baju adat, teman-teman dari Kebumen, dan panitia saya merampungkan naskah di GOR SMPIT ABY. Bisa selesai karena di sana ada semangat teman-teman. Kalau saya sendiri mungkin saya tidak mampu. Jam 23 tepat, naskah selesai.

Sampai dirumah, saya coba mensinkronkan naskah dengan audio yang sudah dikumpulkan oleh Iqbal. Thankz to Iqbal karena mengijinkan laptopnya saya pinjam.

Pagi...

Suasana XT square belum terlalu padat, begitu sampai saya buru-buru membriefing LO talent. Mendengarkan Angger dan Reza membaca teks, mengingat mereka baru mendapatkan teksnya hari itu juga. Sampai-sampai Angger bilang, "Wah mbak, baru pertama kalinya lho, acaranya berubah-ubah terus." Bukan hanya dia, yang lainpun juga banyak yang komentar begitu. Yes, life is never flat, buddy. And show must go on.

Padaaaat. XT Square padat, penonton membludak. Mereka harus dapat sesuatu dari acara ini. Dan orang-orang di balik layar sedang kelimpungan.

Saya  salah tangkap menganggap bahwa saya hanya dipasrahi untuk menghandle sesi 3. Ternyata saya seharusnya menghandle sejak awal... Saya bahkan nggak pegang rundown acara keseluruhan.. huhu... maaf. Tapi untung kami punya koor yang keren, Bayu. Dia bisa tenang mengambil alih semuanya. Dia yang menghandle acara. Terimakasih juga pada MC yang mau direpotkan dengan memikirkan beberapa penyesuaian yang ada.

HT kami kebawa pick up. Padahal kami butuh itu untuk komunikasi. Bukan hanya itu, sound system yang sangat tidak support untuk pagelaran, membuat acara kurang cantik. Mic mati dan sebagainya, padahal mic juga begitu penting.

Di sesi dua, Iqbal yang baru datang dari ujian memberi kabar bahwa kita tidak bisa menjalankan rencana untuk menempatkan 34 talent di balkon demi alasan keamanan. Oke, mari kita ubah lagi! Show must go on kan?

dll dll

Banyak sekali hal-hal yang terjadi di balik layar, hectic, panik, emosi, saling menguatkan, saling support. Macam-macam, dan ini tidak diketahui oleh penonton.

Lalu, apakah acaranya sukses? Sukses atau tidaknya sebuah acara menurut saya ditakar dari pelajaran yang bisa diambil dari acara tersebut. Proses menuju show, adalah proses belajar yang bagus untuk kita semua, bagaimana kita harus disiplin terhadap dead line, bagaimana kita harus bisa berfikir cepat, menerima masukan, menyesuaikan dengan keadaan. Dan yang terpenting, apakah acara tersebut bisa mendekatkan kita pada Allah atau justru sebaliknya.

Kekurangan saya akui terjadi di mana-mana, namun bukan berarti kita lantas berendah diri atau bermuram durja. Bersyukurlah, alhamdulillah Allah ijinkan acara terlaksana. Alhamdulillah, Allah tambahkan kita saudara. Alhamdulillah Allah beri kita pengalaman. Jika bisa menginspirasi dan menghibur tentu hal itulah yang sangat kami harapkan.

Yang jelas saya bahagia dengan event kemarin. Saya senang melihat anak-anak ROHIS berkerumun dalam pertemuan akbar dami satu cinta. Lillah!

"Dan amanahmu, sekecil apapun, lakukanlah dengan riang gembira. Karena bukan soal besar kecilnya amanah yang menentukan kita masuk surga, tapi bagaimana kita mampu menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Untuk Dia."

Teman-teman... terimakasih atas kerjasamanya... ini adalah akhir tahun yang indah. Rasanya luar biasa. MasyaAllah, Allahuakbar!

Bikin lagi yooook , ngundang Michael Buble :p

Oh iya, teman-teman peserta Silatnas dari penjuru nusantara, maaf pabila banyak kekurang nyamanan yg kalian rasakan. InsyaAllah kami perbaiki di kesempatan mendatang :)
pic : @yudhayuliardi

Friday, December 12, 2014

Semua Memang Luar Biasa dan Ini Tidak Berlebihan


Saya berangkat dari rumah siang hari, saat laki-laki shalat Jumat. Rencananya ingin ke jalan Kaliurang. Karena motor yang biasa saya pakai bocor ban belakangnya, maka saya meminjam motor Pakdhe. Motor ini memang ajaib. Sudah ngak ngik suaranya. Rem depan dan belakang agak-agak seret, tapi masih bisa jalan. Jadi sebenarnya saya perlu dzikir banyak-banyak saat mengendarainya. Dan itu yang tidak saya lakukan, karena sepanjang jalan saya hanya menyanyi. Astaghfirullahaladzim.

Sedang asik-asiknya bernyanyi karena tiba-tiba saya mendapat inspirasi nada, tiba-tiba motor ini melambat, semakin lambat dan, o la la. Macet!

Macet bukan sembarang macet karena motor ini mesinnya hidup tapi bannya benar-benar tidak mau diajak maju atau mundur. Ngunci. Saya yang awam masalah permotoran bengong. Kok bisa ya? Beberapa Bapak yang lewat selepas Jumatan memandangi saya heran, dan berlalu. Kerennya lagi, handphone saya tinggal di rumah dan saya nggak bawa duit yang memadai. Perfect. Duh harus gimana ya, tapi saya tenang saja, saya yakin Allah melihat hambaNya yang culun ini dan sbentar lagi entah bagaimana caranya pasti Allah menolong saya. Saya yakin begitu karena sudah berkali-kali Allah menyelamatkan saya.

Tuh kaan bener... seorang Bapak menghampiri saya, dalam hati saya percaya bahwa orang ini pasti mau nolongin saya. Ha ha ha. 

"Motornya kenapa mbak?"
"Nggak tau nih Pak, kayanya bannya ngunci."

Lalu Bapak itu ngiterin motor saya, mengecek bannya dan membantu menepikan motor (Awalnya posisi motor saya mengganggu sekali bagi pengendara lain.). "Ada bengkel di sana," kata si Bapak. Secercah harap muncul namun layu kembali karena saya ingat, satu saya nggak bawa duit, dua motor ini kan kaga bisa jalan. Oh mai gad.

"Em, tapi motornya kan gak bisa jalan Pak." (modus)

Bapak itu mengangguk-angguk, tak lama dia bilang, "Saya panggilin bengkelnya mau?"

"Boleh Pak, tolong ya Pak!" Jawab saya semangat. (modus berhasil!)

Aduh semoga bapaknya beneran manggilin bengkel ya. Semoga saya nggak di PHP batin saya. Astaghfirullah, sempet-sempetnya negative thinking. Ampuni Aim ya Allah.

Tak lama ada dua emas-emas dengan motornya menghampiri saya. Emas berwajah santun namun bertato penuh, gondrong dan tindikan.

Woi, mas mau ngapain? Jangan macem-macem ya, emang saya cewek cantik apaan? Tapi ternyata mereka nggak ngegodain saya... yee GR tingkat amerika latin. Ha ha

Ternyata mas ini adalah mas bengkel yang dipanggil oleh Bapaknya. Tanpa banyak basa basi mereka langsung mengecek motor saya. "Kampasnya habis mbak, besi diadu besi, jadi nggak bisa jalan." Saya sempet tertegun. Ya ampun masnya penampilan sangar gini tapi baik banget. Jadi ngefens #halah malah salah fokus.

"Oh gitu, terus kalau ganti kampas bisa? Bayar berapa ya?"
"Kalau yang kaya gini 40 mbak,"

Duh nggak bawa duit sebanyak itu saya. Lalu saya melihat motor mio yang tadi dipakai si emas, jeng jeng ide jeniuspun muncul, "Saya nggak bawa duit nih, pinjem motor buat ngambil ke ATM boleh?"

Boleh dong, boleh dong, boleh dong (komat-kamit dalem hati.)

"Boleh mbak!"

Horeee

Lalu Bapak yang tadi manggilin bengkel pamit, sambil bilang "mbaknya beruntung loh, nggak sampai jatuh." Deg. Kata-kata Bapak ini...

Di jalan menuju ke ATM saya merenung, bagaimana kalau Mio ini saya bawa kabur, motor saya yang itu ambil aja nggak papa deh. Wooo ngawur. Nggak lah, saya beneran merenung. MasyaAllah, kelihatannya simpel tapi semua sungguh tidak simpel. Allah sudah atur semuanya. Kapan saya berangkat dari rumah, di mana saya macet, bagaimana cara macetnya, tokoh-tokoh yang membantu, semua sudah Allah atur. Dan semua diluar kendali saya sebagai manusia.

Saya yang tadinya hanya merasa senang karena ada yang nolongin menjadi sangat bersyukur. Ya Allah, bener kata Bapak itu, alhamdulillah saya nggak jatuh. Bagaimana kalau skenarionya agak lain, saya berangkat malam hari, di tempat ramai, kendaraan saya gas dengan ngebut, tiba-tiba ban ngunci, pasti saya tidak seimbang, lalu jatuh, ketabrak kendaraan lain, dan... apalagi saat itu saya sedang menyanyi, bukannya dzikir... naudzubillahimindzalik.

Selama ini kita memang bersyukur, tapi menganggap semuanya biasa saja. Yah, seperti memang sudah seharusnyalah begitu. Padahal semuanya kompleks. Semua diatur Allah dengan sangat detil, jam demi jamnya, detik demi detiknya. Untuk kita. Saat kita diberi kesempatan untuk bangun dari tidur, bukankah Allah juga bisa melakukan sebaliknya untuk kita? Saat kita bisa bernafas bebas, bukankah mudah bagi Allah menahan udara untuk kita? Semuanya tidak sederhana, tapi kita menganggap segalanya terlalu sederhana. 

Ya Allah...

Maaf, jika hamba baru sadar bahwa apapun yang berhubungan dengaMu, semuanya luar biasa, AMAZING!

Terimakasih juga kepada tiga orang baik yang hari ini nolongin saya. Semoga Allah balas emas-emas dan Bapak sekalian dengan yang lebih baik. Semoga putra-putri emas-emas ( ya, benar emasnya sudah berputra dan berputri. Sedih sih tapi ya sudah lah #loh? Opo iki maksude?) jadi putra-putri nan shaleh salehah dan baik hati seperti papah-papahnya. Aamiin. 

Kita memang perlu belajar untuk mensyukuri nikmat Allah secara berlebihan, karena selama ini kita sudah begitu mahir menyepelekan -marQuote-





Monday, December 8, 2014

Rindu, Cinta, Waktu, dan Siapa

Hidup adalah kumpulan sesuatu yang tidak pernah tuntas. Semuanya dimulai tapi sedikit sekali yang bertemu titik. Rindu yang terpahat di atas kulit kayu itu, segaris demi segaris, minggu demi minggu, selalu menunggu tanpa tau kapan bertemu. Cinta yang dilontarkan ke atas lalu digenggam angkasa, seperti begitu nyaman di sana dan entah kapan kembali.

Tapi satu hal. Semuanya pasti berakhir, selesai maupun tidak. Semua pasti berakhir dengan sebuah jawaban atau tanda tanya. 

Waktu, dia begitu acuh memainkan perannya. Tidak bisa diajak kompromi. Waktu-waktu sudah diatur untuk begitu, patuh pada sang maha. Waktu untuk ini ,waktu untuk itu, dibatasi hanya segini atau segitu, tapi dia tidak mau tau apakah rindu-rindu itu telah bertemu atau masih membutuhkan perpanjangan waktu untuk menunggu. Apakah cinta itu sudah membumi dan dipeluk lagi atau masih tergenggam di angkasa dan minta waktu untuk bisa turun sebentar lagi.

Dan rindu yang setia menunggu berhak lelah juga lalu menyerah, apalagi jika masa menunggunya membuat ia kehabisan waktu. Pun Cinta, ia berhak tidak berharap lagi lalu pulang.

Namun, bukankah menyerah membuat resah? Karena jiwa ditinggalkan dalam dahaga. 

Maka jalan satu-satunya rindu bisa mengubah objek yang dirindunya, cinta bisa diperbolehkan mencari pengganti. Siapa?

Dia, yang tidak akan membiarkan menunggu. Dia, yang sedari dulu memeluk hangat dari segala penjuru. Dia, yang tidak terhalangi dimensi waktu. Abadi selamanya. Mengatur waktu

Monday, November 10, 2014

Aku memilih pulang

Aku sadar, bahwa aku sudah terlalu banyak bertanya. Tentang ini dan itu. Tentang masa depan yang tidak terlihat bahkan setitik saja. Aku tidak bisa menerawangnya, memastikan apakah semuanya akan menjadi baik-baik saja atau menjadi buruk. Tapi aku sibuk menerka-nerka, menghubung-hubungkannya dengan apa yang terjadi padaku kini. Dan akhirnya aku begitu ketakutan menghadapi apa yang belum terjadi. Seperti anak SD kelas satu yang ketakutan tidak lulus ujian nasional. Gagal. Aku telah gagal memahami...

Aku tahu, segala sesuatu di alam semesta ini berkaitan. Keputusan yang kita ambil sekarang akan berdampak pada apa yang terjadi esok. Tapi terkadang aku lupa, Allah yang sesungguhnya akan mengatur segalanya. Dan aku memilih jalan pulang...

Alhamdulillah, di tengah kekalutan, aku punya sesuatu yang bisa kudengar. Nasihat dari seorang syaikh. Terimakasih kepada Allah yang telah menciptakan manusia-manusia cerdas yang mampu memotong dimensi ruang dan waktu sehingga aku yang ada di Indonesia bisa mendengar ceramah luar biasa dari ustadz di Amerika sana. 

Shalat Istikharah, itu judul ceramahnya.

Saat kita bingung, kalut, lalu kita ingat Allah, melakukan istikharah, tandanya kita sudah memasrahkan dan mempercayakan segala urusan kepadaNya. Ketika hal itu terjadi, tenanglah, Allah akan mengatur segalanya untuk kita, sebaik-baiknya.

Mungkin kita sering menggunakan GPS, saat kita pergi dan salah arah maka GPS tersebut akan berteriak, wrong direction, atau semacamnya. Intinya GPS tersebut akan mengarahkan kita ke jalan yang benar. Nah, dalam Islam, Shalat istikharah adalah GPS kita. 

Saat sudah melakukan istikharah dengan tulus, benar-benar pasrah tanpa memperturutkan hawa nafsu, jangan menyesal. Allah telah menunjukkan jalan terbaikNya untuk kita.

Lepas istikharah, kita juga bisa meminta nasihat pada orang-orang yang mengerti, yang lebih berpengalaman,bisa jadi jawaban mereka adalah bagian dari jawaban istikharah, karena sesungguhnya jawaban istikharah tidak perlu menunggu mimpi.

JawabanNya adalah sebuah kemantapan dalam hati. 

Lalu bagaimana kalau kita salah mengambil keputusan?

Karena sejak awal kita telah mempercayakan semua pada Allah, maka Allah akan membuat yang baik-baik saja untuk kita. 

Istikharah memang bukan hanya perkara nikah, tapi karena selama ini istikharah identik dengan hal tersebut maka contoh ini juga akan mengarah ke sana.

Misal kita shalat istikharah untuk memilih pasangan. Lalu tanpa kita tahu, ternyata keputusan kita salah. Allah yang akan mengatur segalanya, akan ada sesuatu yang terjadi yang membuat pernikahan kita tidak jadi terlaksana. Mungkin kita sakit, tapi itulah keputusanNya. Yang terbaik untuk kita.

Namun jika pernikahan tersebut baik untuk dunia dan akhirat kita, Allah akan arrange agar pernikahan tersebut terjadi. Tenanglah :)

Bacalah doa istikharah ini, betapa kepasrahan pada apa yang Allah pilihkan untuk kita begitu menenangkan batin. Allah....

Allahumma inniy astakhiiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa ‘Abdullah’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amru khairul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” atau; ‘Aajili amriy wa aajilihi faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amru syarrul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” aw qaola; fiy ‘aajili amriy wa aajilihi fashrifhu ‘anniy washrifniy ‘anhu waqdurliyl khaira haitsu kaana tsummar dhiniy.”

Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu”. Beliau bersabda: “Dia sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu”. (HR. Al-Bukhari no. 1162)
Allahuakbar!

Aku memilih pulang. Aku percaya saja padaNya, apapun yang Dia mau, aku mau. :)