Satu hal yang selalu ingin saya lakukan dalam hal menulis adalah menulis novel. Dulu sudah ada ide-ide sebenarnya, tapi setelah saya telisik dan telisik lagi kok sepertinya kalau cerita itu sungguhan dijadikan novel tidak akan berkontribusi besar bagi kebaikan diri saya sendiri dan umat. Untuk itu, saat ini saya sedang mengerjakan sebuah projek novel yang harapannya bisa membuat saya jadi pribadi lebih baik dan sukur-sukur bisa bermanfaat untuk orang lain juga. Tokoh utama dalam novel ini adalah Calliph Arsyad, seorang seniman kaligrafi yang dibesarkan di keluarga pecinta Al-Qur'an. Laki-laki ini menyabet penghargaan Enterprina Award, sebuah penghargaan bergengsi untuk enterpreneur muda yang menggunakan keuntungan usahanya untuk membantu sesama. Dalam hal ini Calliph dibantu dua sepupunya Abid dan Salama mendirikan sekolah berbasis Al-Qur'an gratis untuk anak setingkat SD dan SMP. Mereka juga mengadakan kajian rutin tentang Qur'an untuk warga sekitar.

Hei, hei, pagi ini saya ingin flash back ke beberapa tahun sebelumnya. Ketika saya masih muda, saat wajah saya mirip Angelina Jollie, oh forget it, Angelina Jollie udah tua. :D

 No, but seriously, saya ingin mengingat masa-masa di mana saya baru lulus kuliah dan harus cari kerja. Saya termasuk orang yang cukup PD bahwa saya akan mudah dapat kerjaan. Ya tentu saja saya nggak pernah ngarep buat jadi manager sebuah perusahaan bergaji 10 juta dengan modal saya yang hanya lulusan D3 Bahasa Inggris, ah saya tahu harusnya waktu itu saya bercita-cita jadi mentri. Tapi waktu itu Bu Sussie belum jadi mentri jadi saya nggak punya role model yang baik, saya juga gak tahu bahwa Adam Malik hanya lulusan SD. Hei guru sejarah, bagaimana bisa Anda menyembunyikan semua ini? 

Intinya waktu itu saya yakin sekali bahwa akan mudah bagi saya untuk jadi guru. Meskipun teman saya bilang, nggak mungkin lah lulusan D3 jadi guru, yang S1 aja banyak yang nggak keterima. Ah, thank you, setidaknya saya tahu bahwa di dunia ini bukan hanya saya yang terkadang pesimistis :D

Dan sesuai rencana Allah, saya kirim berkas dan keterima sebagai guru honorer. Alhamdulillah. Karena saya hanya guru honorer maka jam ngajar saya menyenangkan sekali. Sehari paling hanya ngajar 2 kelas sampai 3 kelas. Habis itu ai fil friiiii... (oke saya sedang di taman bunga dan menari-nari seperti kak Rini- tapi saya tidak berani menjatuhkan badan, saya tahu banyak serangga di sana). Di tengah keseloan itu seorang teman mengabari bahwa radio MQ fm Jogja sedang buka lowongan penyiar. What? Penyiar? of course i'll give it a shot. Dari jaman SMP saya begitu senang dengar radio. Malam sebelum tidur biasanya saya dengar Yasika fm, kind of... "Memory, kemarin pacar aku ketabrak truk..." diiringi dengan backsound ost Endless Love yang menyayat ... 

Somehow saya ingin jadi orang dibalik microphone itu, yang bisa mengisi kesunyian orang, jadi seorang sahabat nyata yang tak terlihat. Seiring berjalannya waktu, Saya paham bahwa ada batas-batas ketika saya ingin jadi penyiar. Tentu saya ingin jadi penyiar yang bisa memberi value, termasuk musiknya pun harus musik positif, radio itu juga harus tahu bahwa perempuan tidak bisa diminta siaran malam-malam. Harus diakui bahwa suara wanita sebenarnya cukup menimbulkan fitnah, im sorry bout that, dan saat malam hari akan lebih berbahaya lagi. Maka harus ada batas. Daaaan.... MQ fm adalah tempat yang sempurna.

Awalnya saya pikir bergabung di MQ fm, yah saya akan siaran begitu saja. Tapi ternyata saya merasa sangat nyaman di sini. 

Dari segi pekerjaan :

buat orang cerewet, siaran itu kaya kamu laper terus disuruh makan


Segala hal yang saya kerjakan di MQ adalah hal yang saya suka, siaran, take voice untuk iklan, bikin skrip berita, dll

Dari segi teman kerja :

ya, simpulkan sendiri

Kalau kalian pikir MQ fm berisi orang-orang yang, well eum abid, atau alim, atau gak bisa diajak bercanda. He he you got wrong idea. Anak MQ adalah anak dengan karakter masing- masing. Dan semua sangat menyenangkan untuk diajak bercanda, kita udah kaya sodara sih, jadi kita tidak sungkan menunjukkan sisi kita yang tidak ingin diketahui orang lain. Ada personal problem? Di mana-mana juga ada, tapi sejauh ini kami bisa mengatasinya. Anak MQ, termasuk supportif, kita akan saling encourage temen untuk achieve apa yang dia mau. Well, kadang kita juga saling ejek-ejekan, Sebel-sebelan, tapi ya udah gitu aja, nggak sampe bikin kita males kerja. Ya iya laaah, nggak kerja nggak bayaran, darling, ;)

Dari segi suasana kerja:


Seorang teman yang waktu itu saya ajak siaran bilang, "Enak ya kerja di sini," Seorang narasumber juga sempet bilang, "di sini enak ya, ketawa terus bikin awet muda."

Ya kira-kira begitulah suasana kerjanya. Saya jadi berfikir di mana ya tempat kerja yang seenak MQ? Di mana saat kerja kita bisa kerja sambil youtub-an, sambil buka portal berita lalu ngumpul buat ngomen berita itu sambil ketawa-ketawa. Nggak takut dibentak boss, karena bossnya ikutan nimbrung. Bisa makan kapan aja kalo laper. Kalau kerjaan udah selesai dan kita masih pengen di MQ, kita bisa ke perpusnya, baca buku, atau seperti teman-teman saya kemarin duduk di ruang mushola, yang juga perpus, yang juga ruang keluarga :v buat nonton drama korea atau berita.Mau apa lagi ya?? Ah iya, mau ibadah? Silahkan, setiap ruangan bebas digunakan untuk baca Qur'an dan sholat, gak perlu khawatir ditegur. Asal jangan sholat sambil siaran sih :v. Kalau ngantuk bisa bobok di bawah meja meeting. MQ fm membuat kita menyelesaikan pekerjaan tanpa stress, tanpa takut ini itu. :)

Kantor MQ, is not just kontor. It's home, it's where my 2nd family lives together. Dan saya sangat bersyukur. Alhamdulillah Allah jodohkan saya dengan pekerjaan ini. Terimakasih atas semuanya. Selamat milad MQ yang ke 9. 

bareng temen-temen MQ Bandung... 

Jika ada yang bilang waktu adalah obat mujarab untuk menjadi amnesia, mungkin mereka tidak benar-benar punya rasa. Karena sesungguhnya yang membuat kita lupa adalah rasa baru yang lebih bergelora.

"Aku ingin jadi ayah."

Hah! Apa-apaan sih anak  ini? Ia menoleh ke arahku sambil menunjukkan mulutnya yang cemong terkena es krim, tangannya juga kotor dan lengket, iih . Kami berdua sedang duduk di sebuah bangku taman dengan danau buatan menjadi pemandangan yang terhampar di depan kami. 

"Boleh kan Yah, aku jadi ayah seperti ayah?"

"Memang siapa sih yang bilang kalau aku ini ayahmu?"

"Tentu saja Ibu, siapa lagi?" Sekarang anak kecil ini memutar lidahnya, menyapu pinggiran bibir sampai bersih. Ya, Tuhan, masak sih dia anakku?

Ya, ya, menurut sebuah keterangan dia memang anakku. Tapi setelah kuingat-ingat dia anak yang tidak sengaja kubuat. Maksudnya, waktu itu kami (aku dan ibu dari anak ini)  sama-sama tidak menyangka bahwa apa yang kami lakukan  sembilan tahun silam di toilet sekolah bisa menghasilkan makhluk ajaib seperti ini. Makhluk yang memiliki wajah mirip dengan ku. Matanya adalah mataku, hidungnya juga hidungku, hanya mulutnya saja yang sepertinya mirip ibunya. Awalnya aku ingin menyangkal, tapi melihat kegigihannya meyakinkanku, mengingatkanku pada sikapku yang keras kepala. Dan dari situ aku tahu dia benar-benar anakku. 

"Bagaimana kabar ibu mu?" Semenjak kejadian itu, ia tidak pernah masuk sekolah. Bahkan ia juga pindah rumah. Jujur aku menyesal, tapi saat "hal itu" terjadi ia nampak baik-baik saja. 

"Ibu baik."

"Apa saja yang dia ceritakan tentang aku?"

Anak laki-laki ini berpikir terlihat berpikir, "Hm, katanya ayah orang yang baik dan sabar, lucu, suka memberi." Oh, baik sekali dia bercerita seperti itu pada anak ini setelah apa yang kulakukan padanya. . 

Kulihat es krim anak di sebelahku sudah habis dan bisa kutebak ia sedang bersiap-siap akan mengusapkan tangan kotor penuh coklat lengket itu ke celananya.

"Eit, stop, stop," Ia mringis menatapku. Aku mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku lalu memegang kedua tangan mungilnya dan membantunya membersihkan coklat lengket itu, Di momen ini, tepat saat aku melihat pantulan wajahku di bola mata beningnya aku merasakan kehangatan yang membadai dalam hati. Satu hal yang tidak memiliki nama, rasanya aneh, berdebar, campur nyaman. Aku memegang tangannya agak lama.

 "Ayah" Suara mungil itu memanggil begitu saja. Kedengaran sangat polos. Ya, Tuhan, dia anakku, anak yang dalam tubuhnya mengalir darahku. Aku menelan ludah. Jadi seperti ini rasanya menjadi ayah. Mengetahui bahwa ada seseorang yang mewarisi sifat-sifatmu dan melanjutkan garis keturunanmu. Mengetahui bahwa saat tua mungkin dia bisa diharapkan untuk kau ajak bicara. Ternyata indah.

Aku menarik tangan dengan kikuk. Dan kali ini tidak berani menatap matanya lagi. Dia memang anakku, tapi bukan milikku, tentu saja aku tidak diijinkan berharap apa-apa padanya. Jangankan mengajaknya bicara waktu tua, bisa jadi ini pertemuan pertama dan terakhirku dengannya.

"Kata ibu ayah seorang pelukis?"

"Ya begitulah," bagaimana sih anak ini, jelas-jelas dia menemuiku di taman saat aku sedang asik melukis. Gambar danau itu baru setengah jadi saat tangannya memeluk pinggangku tadi. Ia datang sendirian, memelukku dari belakang sambil mengaku-ngaku kalau dia anakku dan minta dibelikan es krim. Dasar bocah.

"Kata ibu lukisan ayah, juara." Dari tadi kamu bilang kata ibu-kata ibu. Sembilan tahun tidak bertemu, sekarang ibumu seperti apa sih? Apa masih cerewet? Apa masih dikerubuti banyak laki-laki?  Tapi yang jelas ibumu pasti jauh lebih baik dariku, dia bisa membesarkanmu hingga jadi anak semanis ini.

"Mikail,"Suara itu datang dari belakang bagai badai typhoon. Membuatku membeku beberapa saat. Aku kenal suara ini, suara yang kusimpan rapat-rapat dalam sebuah kotak kenangan. Keluar begitu saja tanpa permisi. Suara yang sesungguhnya ingin kudengar setiap hari meskipun produksi kata-katanya sedikit berlebih. Dan setelah sembilan tahun, akhirnya suara ini datang lagi. Terimakasih hei udara, kamu telah memungkinkan aku mendengar suara ini lagi. 

"Ibuuuu." Anak laki-laki di sebelahku  serta merta berlari , begitu antusias menyambut kehadiran ibunya. Sedangkan aku terus menatap nanar ke arah danau, belum berani menoleh dan sejujurnya tidak tahu apakah aku masih layak memperlihatkan wajahku ini padanya.

"Mikail main sama eyang dulu ya, di sebelah sana." Kudengar Miranti memberi instruksi pada anak kami. Dia agak ogah-ogahan tapi akhirnya aku mendengar suara langkah anak laki-laki itu menjauh. Sebentar, tadi aku bilang apa, anak kami? Lancang sekali.

"Argo." Kali ini suara itu memanggil namaku. Sumpah demi apapun, sebenarnya aku ingin menjawab tetapi tiba-tiba seperti ada sesuatu tersangkut di tenggorokan, dan aku hanya bisa megap-megap saja tanpa suara.

Yang barusan adalah sebuah kesalahan, baiklah kebodohan karena aku terlalu gugup, dan kini aku tidak ingin Miranti mengira aku tidak merindukannya, maka kuberanikan diri untuk membalikkan badan  dan oh la la... ini Miranti?

Iya dia Miranti, wajahnya tidak berubah, tapi tentu saja ia Miranti yang berbeda. Pantas ia bisa mendidik anak itu jadi begitu manis. Miranti kini berjilbab lebar, ia menggunakan baju terusan longgar. Benar-benar bukan Miranti yang kukenal dulu, yang dekat dengan siapa saja, yang menyemangati para pemain basket dengan gerakan-gerakan agresifnya.

"Mir," Ia menahanku melanjutkan kata-kata.

"Kamu di situ aja, Ar. Dan lebih baik balik badan." Sebagai pihak yang bersalah tentu saja aku harus mematuhi apapun perintahnya. Balik badan, ok.

"Dia anak kita, namanya Mikail. Sekarang usianya delapan tahun." Miranti diam sejenak, aku juga tidak berani menyela. "Masa lalu itu sedalam-dalamnya aku kubur tetep nggak bisa, setiap lihat Mikail aku selalu inget kamu dan dosa kita. Aku minta maaf atas dosa yang pernah kita lakuin dulu. "

Dia masih cerewet, tapi cara bicaranya begitu tenang. "Seminggu lagi, kami pindah ke London, aku akan menikah di sana. Makanya dia aku bawa buat ketemu kamu."

Aku tidak bisa menahan diri lagi, akhirya aku balik badan dan menatapnya yang langsung menunduk, "Mir, kamu nggak mau kasih aku kesempatan? Buat jadi ayahnya Mikail? Jujur baru aja aku ngerasain betapa indahnya jadi seorang ayah, dan tiba-tiba kamu bawa dia pergi? Ini nggak adil, Mir."

Miranti tersenyum pada Mikail yang sedang bermain bola dengan eyangnya, ia tidak mengalihkan pandangan dari sana, "Aku minta maaf, aku sempat drop saat tau aku hamil. Aku nggak kepikiran buat ngabarin kamu karena aku fokus buat menahan diriku agar nggak menggugurkan Mikail."

Mendengar pengakuannya, hatiku merasa sakit. Dan di sini aku baru menyesali tindakan bodohku sembilan tahun silam. Kalau tahu hukumannya akan seperti ini (dipisahkan dengan darah dagingmu sendiri) tentu saja dulu aku akan memilih untuk menahan diri, "Masih seminggu lagi kan Mir, apa boleh Mikail tinggal sama aku?"

Miranti terlihat jaget dengan permintaanku, "Nggak! Nggak Ar, Nggak bisa."

"Mir, kamu tinggal sama dia delapan tahun ini. Selama delapan tahun aku menyangka bahwa aku satu-satunya manusia malang di dunia karena udah nggak punya keluarga lagi. Tiba-tiba Mikail datang, Mikail anakku, satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah denganku. Seseorang yang mengingatkanku gimana rasanya bahagia. Setelah ini kamu juga akan bawa dia pergi, nggak tau berapa lama. Aku nggak tau juga apa besok-besok masih bisa ketemu Mikail. Please Mir, seminggu aja. Biarin aku nunjukin ke dia bahwa kebaikan tentang aku yang selama ini kamu ceritain ke dia bukan cerita bohong."

"Ayaaah..." Mikail melempar bola ke arahku, aku membungkuk mengambilnya. Anak laki-lakiku berlari menghampiri kami dan memeluk pinggangku seperti tadi. 

Miranti terlihat menatapku dan Mikail dengan mata berkaca-kaca, aku juga mati-matian menahan diri agar tidak terlihat cengeng di depan anak ini.

"Mikail mau nggak tinggal sama ayah  sebelum kita ke London?"

Wajah Mikail begitu antusias, "Boleh?" nadanya terdengar ceria. 

Miranti mengangguk, "Beneran boleh Buk?" Ia masih tidak percaya, sama akupun tidak percaya. Aku menatap Miranti. 

"Iya, boleh," katanya lirih sambil berusaha meraih Mikail, Mikail berjalan ke arah ibunya,  mereka berpelukan cukup lama.

"Makasih ibuk," Miranti mengecup kening anak kami, lalu membiarkan Mikail kembali padaku.

"Terimakasih Mir, baju-baju dan segala keperluan Mikail biar aku yang urus. Enam hari lagi kita ketemu di sini, kamu bisa jemput dia."

Miranti mengangguk. Aku meminta Mikail naik ke punggungku, lalu berdiri pelan-pelan, "Urgh, berat juga ya anak ayah."

"Ha ha iya dong, kata ibu, aku jago makan."

Mirati tersenyum, ia terlihat begitu anggun. Seandainya... ah kenapa harus berandai-andai, toh seharusnya aku  berterimakasih karena sudah diberi kesempatan untuk jadi ayah selama seminggu. Aku benar-benar tidak tahu diri jika berharap lebih.

Aku dan Mikail bersiap pergi, orang tua Miranti sudah lebih dulu kembali ke mobil. "Mir, congratulation on your wedding ya. Beruntung banget suami kamu."

"Thanks, Ar. Kamu juga jangan lupa nikah, dan tobat." Ia sedikit tertawa.

Bertaubat, itu hal pertama yang akan kulakukan setelah pergi dari sini. Terimakasih sudah diingatkan. Menikah? Entahlah.

"Aku duluan Ar, em... aku akan kasih nomor kami di London jadi kamu bisa telpon Mikail kalau kamu kangen dia."

"Pasti Mir, aku pasti kangen dia."

"Aku duluan, assalamualaikum, jangan lupa sholat ya sayang." Miranti mewanti-wanti anak kami.

"Oke, bu." Mikail mengacungkan jempolnya, suaranya masih tedengar  senang.

"Mikail belum pernah sesenang ini sebelumnya."

Apa yang bisa kukatakan. Aku haya bisa menanggapi kata-kata Miranti barusan dengan senyum. Asal dia tahu, aku juga belum pernah sebahagia ini dalam hidupku.

Ibu dari anak ini pelan-pelan berjalan menjauh meninggalkan sepasang ayah dan anak baru. 

"Mikail, ayo kita pulang. Ayah gendong sambil lari ya... satu dua tiii...gaaa..." aku berlari sambil membawa anakku di punggung. Ya Tuhan, kenapa rasa luar biasa ini hanya Kau titipkan padaku sebentar saja? Apakah kalau aku bertaubat Kau akan memperpanjang masa berlaku rasa bahagia ini?

"Ayaaah stooooop... stooop." Mikail menepuk-nepuk punggungku. 

Spontan aku mengerem laju lariku, "kenapa?"

"Alat lukis ayah ketinggalan." 

Aku menepuk keningku sendiri, "Oh iya, lupa, ayo kita ambil. Tapi sekarang kamu yang gendong ayah."

Mikail terdiam mencerna kata-kataku, "Ha ha ha... ayah bercanda, sayang."



pict : here













Tidak perlu saya berteriak atau mengulang-ulangnya, semua orang pasti tahu bahwa Allah maha mengasihi hambaNya. Namun ijinkan saya terharu pada kasih sayang Allah yang baru saya ketahui tadi. Bukan sebuah hal yang wah sebenarnya. Mungkin di mata orangpun ini biasa saja. Tapi tidak untuk saya. 

Sore ini saya siaran Sesorean di radio MQ Fm. Sesorean (Sharing sore menambah iman) ini sengaja diformat untuk memberikan info ringan jelang senja. Ada tiga segmen, Fakta Islam - menginformasikan fakta-fakta atau keajaiban islam, tahukah sahabat -informasi tentang kejadian-kejadian di muka bumi yang dikemas secara ilmiah dan kabar baik dari Indonesia.

Dalam segmen tahukah sahabat tadi dijelaskan tentang mengapa seseorang selalu menutup matanya ketika bersin. Nah ini juga yang jadi pertanyaan saya sejak dulu. Kenapa ya? Pernah sih saya iseng sok nahan-nahanin buka mata saat bersin, eh nggak bisa juga. Terus saya jadi berfikir, jangan-jangan kalau kita memaksa membelalakkan mata saat bersin maka akan terjadi kebutaan ya?

Nah ditahukah sahabat ini terjawablah rasa penasaran saya. Sebenarnya kita memejamkan mata saat bersin itu karena adanya reflek. Hal ini mirip dengan kejadian reflek tendon dalam. Jadi kalau misal dokter mengetuk dengkul kita maka kaki kita akan reflek terangkat (duh, sayang saya belum pernah nyoba.)

Dan... ini nih yang bikin saya terharu. Di situ disebutkan bahwa salah satu alasan kenapa mata kita terpejam saat bersin adalah untuk mengindari adanya lendir ataupun kuman dari eum maaf umbel kita yang terciprat saat bersin masuk ke mata.

MasyaAllah... asli saya terharu banget. Betapa Allah menyayangi kita sampai sedetail itu. Saya malah nggak kepikiran sampai segitu jauhnya :'( 

Ya Allah... Ya Allah terimakasih