Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tuesday, February 24, 2015

Valdi Valdo


Aku mengaguminya semenjak kecil. Semenjak pertama kali ia pindah menempati rumah kosong bekas rumah om Eddy. Aku mengaguminya yang  bisa bersenang-senang dengan apapun. Iya, APAPUN, bahkan tanah becek dan hujan deras. 

Sore itu hujan turun lebat sekali. Suara petirnya membuatku  bolak balik dari pinggir jendela lalu ke kamar mama, lalu ke pinggir jendela lagi untuk mengintipnya. Ia hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek lalu meletakkan payung di samping yang akhirnya berbalik karena tertiup angin. Ia jongkok di atas kubangan berwarna coklat susu, menaruh sebuah kapal kertas yang langsung hancur, tidak kuat menerima air dari langit yang bertubi-tubi. Tapi ia tetap asik, tetap tertawa ria, bahkan sekarang ia duduk tidak jongkok lagi. Ia biarkan kertas yang jadi bubur itu. Kini aku tidak punya ide tentang apa yang akan ia lakukan. Lalu tiba-tiba, ia menghampiri payung yang terbalik tadi- sudah ada genagan air di sana, ia mengangkatnya pelan-pelan, masih dalam kondisi terbalik, meletakkannya di atas kubangan dan ia... menaikinya ? Ya, ampun...

Ia sekarang main kapal-kapalan dengan payung, meskipun kapalnya hanya diam dan tidak bergerak, ia terlihat sangat menikmati, seperti seorang nahkoda profesional. "Nenek moyangku seorang pelauuut..." Aku tidak bisa mendengar suaranya dari dalam sini. Hujan di atas genteng sedang bertengkar hebat. Bising sekali. Tapi mungkin ia sedang menyanyikan lagu itu, mulutnya terlihat komat-kamit dan kepalanya mendongak ke atas. 

Tapi tidak, ternyata ia tidak menyanyi waktu itu.

--

"Jadi apa yang kamu lakukan dulu?"

Ia ada di depanku, memegang sepiring nasi goreng dan bersiap menyuapkannya ke mulutku. 

"Aaaak..." Aku membuka mulut dan membiarkan nasi goreng buatannya masuk ke mulut lalu terjun bebas ke lambung untuk bertemu sahabatnya yang sudah masuk dari tadi.

"Aku berdoa untukmu," Katanya menjawab pertanyaanku, "Aku berdoa supaya di tempat tinggal yang baru, Tuhan memberiku teman yang baik, yang bisa menemaniku hujan-hujanan sampai sakit flu bersama, lalu meminta ijin untuk tidak sekolah, lalu bermain-main bersama lagi." Ia tersenyum riang, menyuapkan nasi goreng terakhir, dan meletakkan piring di atas meja.

"Tapi Tuhan tidak mendengar doamu." Kataku. Ya, sampai sekarang aku tidak pernah hujan-hujanan bersamanya sampai flu bersama, dan tidak sekolah bersama.

"Ia selalu mendengar doa kita, dan doaku yang satu itu dikabulkan dalam bentuk yang lain. Untuk itulah aku di sini."

"Tapi keberadaanmu di sini adalah doaku."Maksudku, harapanku. 

"Doa kita bertemu, dan mereka bersepakat untuk mempertemukan kita di sebuah tempat yang hangat, bukan di bawah langit yang sedang kepenuhan muatan air lalu menyemburkannya ke bumi. Tuhan ingin aku dan kamu sehat. Aku pernah sakit flu, rasanya tidak nyaman."  Ia berkata seolah-olah dia adalah satu-satunya manusia yang pernah terjangkit flu.

Aku mengangguk dan tersenyum mendengarnya membela Tuhan. Aku sendiri tidak terlalu percaya pada kebaikan Tuhan. Tapi semenjak hari ini, saat mendengar ada seseorang yang menyebut namaku dalam doanya, dan doa itu ditujukan pada Tuhan, lalu Tuhan mengabulkannya -yah meskipun dalam bentuk yang lain- tingkat percayaku pada Tuhan sedikit bertambah.

"Hari ini kamu lebih cantik. Sini biar ku kepangkan rambutmu."

Ia lalu beranjak ke belakang pelan-pelan menyisir rambut tipisku dengan jemarinya, lalu mengepangnya.

"Apa kamu lelah jadi temanku?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Aku merasakan tangannya berhenti mengepang.

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Aku merasa selalu merepotkanmu dengan semua kondisiku. Aku sangat tidak berdaya di atas kursi roda ini. Aku tidak bisa melakukan apapun. Bahkan aku tidak bisa keluar rumah untuk menemanimu berhujan-hujanan. Aku temanmu yang tidak berguna!"

Tubuhku menghangat, ia memelukku dari belakang, "Tolong, jangan katakan itu lagi. Kumohon."

"Kamu adalah malaikat bagiku. Kamu adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengan manusia berwajah monster sepertiku. Kamu satu-satunya sahabat yang tidak merasa terganggu dengan air liur yang selalu menetes dari mulutku. Hanya kamu yang tidak pernah bohong dengan mengatakan aku cantik. Kamu yang membuatku selamat dari sayatan pisau saat aku sedang mengalami krisis percaya diri. Kamu sahabatku yang luar biasa. Tolong jangan katakan itu lagi.Kumohon."

Kami terisak, aku merasa bersalah.Kenapa aku lemah begini? Aku hanya tak enak hati karena ternyata dia mendambakan aku bisa hujan-hujanan bersamanya. Bahkan ia menyebutkannya dalam doa.

"Aku minta maaf." Isakannya mereda. Kini ia berpindah ke depan. Aku menatap wajahnya yang memang tidak cantik karena bentuknya tidak beraturan. Nama penyakitnya keren, mandibulofacial dysostosis. 

"Sudah ya jangan nangis lagi, tambah jelek nanti." Ujarku. Dan ia tersenyum.

"Taukah, aku lebih senang dikatai jelek, wajah monster, gorila atau apapun tapi orang itu mau bicara padaku tanpa memandangku seperti memandang bangkai hidup. Daripada sok menguatkan dengan mengataiku cantik, tapi selalu menghindariku."

"Taukah, aku juga bersyukur ada seseorang yang menemaniku kemanapun, mendorong kursi roda ini kemana-mana, mengambilkanku ini itu. Sampai selama ini. Terimakasih."

Kami berpelukan, tau bahwa semuanya akan berakhir sebentar lagi. Sebuah takdir baru akan menjemput kami.

"Klarisa, Dahlia. Sudah ditunggu di luar."

Mama membuka pintu mengingatkan kami.

"Jangan berlebihan kalian tetap bisa bersahabat." Kami berdua tertawa, saling tatap dan berpegangan. Menyalurkan energi masing-masing. Benar, kami hanya menjadi terlalu melankolis. Kalaupun berpisah kami tidak akan berpisah terlalu lama, setidaknya kami tetap akan sering bertemu.

"Cepatlah, Valdo dan Valdi menunggu kalian. Atau kalian berubah pikiran."

Kami berdua menggeleng bersamaan. Sahabatku beranjak dan mendorong kursi rodaku ke luar.  Kami akan menikah hari ini, suami kami, mereka kembar, ya, dua penyakitan ini akan jadi saudara ipar.

Saat melihat Valdi, kepercayaanku pada Tuhan lengkap sempurna. Dia memang penyayang. Sedangkan sahabatku, aku yakin dia akan mencintai Tuhan lebih dari seisi dunia ini. Valdo begitu tampan hari ini.


 pict : here







Monday, February 23, 2015

Hak Cipta Milik Allah SWT



Awalnya saya merasa agak kesal, pada seseorang yang mencuplik quotation yang saya buat, lalu mengubah sumber  menjadi namanya, 

Misal begini

Kalau kamu merasa tubuhmu bau, tutup hidungmu! - marQuote- (MarQuote biasanya saya gunakan untuk menandai quote-quote yang saya buat)
Lalu oleh orang yang mengganti itu ditulis begini

 Kalau kamu merasa tubuhmu bau, tutup hidungmu! -CiCi-
 Tulisannya sama persis, tidak dimodifikasi, atau ditambahi maupun dikurangi, hanya saja sumbernya diubah, dan itu tandanya si pengubah itu mengaku bahwa tulisan tersebut merupakan buah pikirnya.

Ya, jujur agak jengkel. 

1. Secara etika kepenulisan tentu saja hal tersebut merupakan sebuah pelanggaran, ia mengakui sesuatu yang bukan miliknya/tidak dia buat, artinya apa? Ya, dia mencuri.
2. Untuk mendapatkan ide menulis  diperlukan usaha, mulai dari riset sampai duduk di keheningan demi mendapat ilham, eh lha kok dia dengan entengnya, copy paste.

Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi dalam hal ini saya yang salah. Dah aku mah apa atuh, bukankah ide-ide yang nemplok di kepala saya lalu saya tuliskan, sesungguhnya bukan milik saya? Semua Allah yang punya. Maka saya juga merasa aneh pada diri sendiri, kenapa saya harus kesal atau jengkel pada satu hal yang diambil orang lain, sedangkan hal tersebut bukan punya saya?

Lalu aneh juga saat saya merasa senang, pabila ada orang yang memuji tulisan saya, kenapa harus senang? Bukankah itu semua Allah yang ijinkan, Allah yang beri ilham, Allah yang mampukan saya menulis, Allah... bukan saya. Saya nggak bisa ngapa-ngapain kalau tidak dapat ijin dari Allah, tidak dapat modal dari Allah. Sungguh saya tidak punya apa-apa. Senang boleh saja sih sebenarnya, setidaknya kita tahu bahwa yang kita tulis bermanfaat, tapi harus ingat juga bahwa kebermanfaatan itu Allah juga yang atur, kita mah tinggal berharap supaya kebermanfaatan itu menjadi amal baik yang diterima Allah. Kan suka-suka Allah juga mau menerima amalan kita atau tidak... huhu :((

Jadi ingat tadi pagi mendengar kajian MQ FM

Aa' Gym bilang, ikhlas itu tempatnya 3

1. Di awal, dengan membesarkan harapan bahwa Allah akan memudahkan amalan yang hendak kita lakukan.
2. Di tengah, dalam hal ini kita berharap amal diterima dan takut apabila amalan kita tidak diterima
3. Di akhir, nah di sini nih yang agak tricky, harusnya selesai mengerjakan amal kita merasa takut, takuuut sekali kalau amal kita rusak hanya karena masalah-masalah sepele macam riya, sombong, songong dll dsb. Makanya setelah beramal kewajiban kita adalah teruuuuus meluruskan niat. 

Astaghfirullahaladzim.

Betapa saya sombong, merasa sok, hanya dengan menulis sekalimat dua kalimat. Merasa sudah berbuat paling baik, dan merasa hellooow itu karya gue, gue mikir sampai puyeng you know? Padahal aduuuuh.... ampun gusti, Allah tahu siapa sebenar-benar saya. Allah yang paling tahu bahwa saya tidak pernah sebaik yang disangkakan orang. Innalillahi... :((

 Lalu saya mulai berpikir yah, lebih baik saat membuat quotation tulis saja "Hak cipta milik Allah SWT", agar semua merasa bebas menggunakan, dan saya merasa lebih ringan.

Kecuali untuk tulisan yang panjang dan menggunakan data, tentu saja harus jelas sumbernya, bagaimanapun saat menulis kita juga harus tanggung jawab pada tulisan kita.

Eh, tapi untuk teman yang juga masih sering copas-copas, silahkan cantumkan sumber ya, karena sekali lagi hal tersebut masuk ke masalah adab atau etika, dan supaya pertanggungjawabannya jelas.  Dan sebenarnya nggak nyaman juga kan, kalau kamu disukai atas sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan :)

Sama-sama belajar

image : http://nimisrecipes.com/copyright/

Thursday, February 12, 2015

Orientasi Akhirat


Dua kata ini cukup membuat saya diam di tempat, lalu merenung seketika mendengarnya. Orientasi akhirat a.k.a ridha Allah- saya dengar istilah ini pada sebuah kajian di senin sore bersama ustadz Syatori. Tidak perlu menjadi kafir untuk lupa akhirat. Saya yang asli muslim sejak brojol pun ternyata belum sejauh itu memikirkan akhirat. Makanya istilah ini membuat saya kejut sesaat. Ketika itu tiba-tiba di kepala saya seperti ada film yang diputar. Tentang tingkah-tingkah tidak tahu diri sebagai manusia yang bagai lupa kalau akhirat itu ada. Astaghfirullah.

Tahu dan sadar itu berbeda, teman. Kita tahu Tuhan ada, Allah ada, kita tahu itu. Tapi tidak setiap saat kita sadar bahwa Ia sungguhan ada sedang mengawasi kita. Kita tahu bahwa segala tingkah polah akan dimintai pertanggung jawaban, tapi tidak setiap detik kita sadar akan hal itu. Itulah kenapa seringkali kita khilaf. Nah menimbulkan kesadaran ini butuh mujahadah. Kesungguhan. Dan pertolongan dari Allah. Kita butuh menjadi sadar sebelum melakukan ini itu, tidak memulainya sebelum sadar apakah hal yang akan kita lakukan baik untuk akhirat kita atau tidak? Kira -kira akan menyusahkan kita di sana atau memudahkan? SADAR! 

Finally saya jadi teringat, bukankah sadar dan paham adalah pembeda kita dengan orang-orang yang sedang mabuk?

Jangan-jangan selama ini saat saya melakukan sesuatu tanpa berfikir panjang atau hanya menempatkan akhirat di deretan kursi terakhir, saya sedang setengah mabuk? Naudzubillah.

Sebentar, sebelum sampai di titik terakhir, sebenarnya kita juga harus sadar, kenapa ini itu harus berorieantasi akhirat?

Yah, simple, kalau bukan akhirat memangnya mau berorientasi apa? Apakah ada yang lebih kekal dari akhirat? Udah, gitu aja.

Semoga Allah senatiasa lindungi kita, bantu kita untuk selalu sadar mengingatNya sebelum melakukan apapun. Sebelum apapun itu menentukan harus masuk golongan mana kita.

Wallahua'lam bishawab

Wednesday, February 4, 2015

Berhak Jadi Baik


Jika menjadi baik itu mudah, mungkin balasannya bukan surga
Tapi selayaknya alam semesta tahu, jadi baik itu susah, apalagi jika kamu sudah berstigma
Di jidatmu terpampang tulisan, perokok, tukang ngibul, pemerkosa, pemutilasi, ceroboh, suka ngutang, pembawa sial!

Dirimu seperti sudah dililit ber ton-ton dosa dan kesalahan , melepaskan satu lilitan saja susahnya minta ampun
Apalagi jika harus melepaskan semua, mustahil!

Namun, ada satu yang kamu lupa, Tuhan suka bagi-bagi hidayah gratis
Pada siapa saja, suka-suka Tuhan, Ia tidak pandang bulu, mungkin kamu salah satunya
Seseorang yang dirindu Tuhan dan ingin dibersihkan, digosok sampai mengkilap dengan kasih sayang
Dilembutkan hatinya, dipekakan perasaannya

Jika masa itu sungguhan datang, saat kamu melihat segalanya lebih terang
Saat di mana kamu sadar bahwa dunia ini hanyalah tipuan, dan kamu percaya bahwa masa-masa penghakiman itu nyata ada bukan dongengan

Jangan malu atau ragu

Kamu berhak jadi baik, meskipun orang disekitarmu bilang tak mungkin
Meski mereka menganggap perubahanmu takkan lebih lama dari tatto temporari
Meskipun mereka menertawaimu setiap waktu

Teruslah perbaiki diri, dengarkan apa yang mereka bilang, tapi segera lupakan
Fokusmu bukan pada mereka, fokusmu pada dirimu sendiri yang mau tidak mau HARUS JADI BAIK
Mereka yang meragukanmu, membuatmu sungkan berubah, hanyalah kumpulan jiwa yang juga cuma tinggal sementara di dunia

Tapi perkara kebaikanmu akan diganjar surga dan keburukan akan menemui tempatnya di neraka bukan sekadar cerita

Tetaplah berproses baik, meski tak mudah tapi itu mungkin!
Jagalah hadiah yang diberikan cuma-cuma oleh Tuhan itu
Berterimakasihlah dengan terus bersyukur dan berjanji bahwa kau akan berupaya mati dengan menjadi manusia baik seperti ini

gambar : di sini




Tuesday, February 3, 2015

Menyimpul Sepi



Selamat datang dalam botol kecil tak berpenghuni,

Duduklah di sebelah sana, berdua saja dengan pantulan wajahmu dalam kaca,

Tidak usah bercerita, meskipun dalam hatimu luapan-luapan itu ada

Kadang, cara terbaik mengungkapkan segalannya adalah dengan menelan suara-suara

Mengendapkannya, memilah, merenungkan, dan memutuskan, mana yang layak diterima oleh telinga

Yang kau keluarkan, nantinya akan kau masukkan lagi bukan?

Dan sepi ini akan membantumu menyimpulkan, aksara mana yang akan kau buang lantas kau hirup ulang

Memahamkanmu tentang hakikat pesan, tak semua yang kau tahu harus kau bagikan,

Ingat, banyaknya yang kau tahu berbanding lurus dengan banyaknya sampah yang secara alami mengikut kemana-mana

Saringlah dulu,  pastikan bahwa yang kau persembahkan keluar adalah sebuah kebaikan, sulingan terakhir, esensi, maslahat...

gambar : di sini