Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tuesday, October 14, 2014

Dear Motor, Maaf dan Terimakasih

Apa yang ada pada kita, semuanya, SEMUANYA adalah milik Allah. Kita lahir dengan berbagai kelengkapan yang menyertai kita, ya organ dalam, ya organ luar semuanya milik Allah. Apapun, APAPUN yang seolah-olah kita miliki pada kenyataannya adalah milik Allah. Really, kita nggak punya apa-apa, termasuk diri kita sendiri.

Lalu saat dewasa kita mulai dititipi Allah hal lain . Banyak sih ya, saya nggak bisa sebut satu-satu. Tapi satu hal yang bikin saya istighfar adalah titipan Allah pada saya yang berupa motor. Saya punya motor, warna hitam, keluaran lama, mereknya Suzuki apaaa gitu, tapi dia lebih dikenal dengan sebutan Suzuki Kebo. 

Jujur saya suka malu gimanaaa gitu kalau harus pergi naik motor saya. Ya bisa dibilang motor saya termasuk motor butut :p. Mau kondangan, udah dandan kinclong, eh motornya butut. Kan jadi nggak macthing cyn. Pergi ke mana, beberapa orang memandang motor saya dengan tatapan, duh, mesaake banget sih. Bahkan saat parkir, mungkin motor lain malu jejeran dengan motor saya. Kwaaa kwaaa kwaaak...

Lalu saya mendengar ceramah Aa'Gym tentang hal-hal yang mengotori hati. Salah satunya adalah cinta dunia. Orang yang cinta dunia, akan memandang dunia dengan BERLEBIHAN. Punya barang bagus bangga, punya barang jelek minder. JLEB! Waduh, hati saya musti hati-hati nih. Saya mulai tanya sama diri sendiri.
Kenapa kamu minder sama motor titipan Allah itu? Kalau Allah kasih kamu titipan yang lebih baik, apakah kamu akan lebih senang, lebih bangga? Dan sayup-sayup saya mendengar jawaban iya...

Astaghfirullahaladzim....
Ternyata saya terindikasi cinta dunia T,T

Buat apa? Buat apa bangga atau minder terhadap hal yang sama sekali bukan milik kita. Saya tanya pada diri sendiri. Apa yang kamu harap dari orang-orang saat melihat kamu punya motor bagus? Pujian? Pandangan kagum? Pujian orang paling cuma berapa detik doang "Cieee, motornya baru. Bagus banget." Udah gitu doang, tapi hati ini jadi kotor. Jadi ujub. Jadi lupa bahwa semua bukan punya kita. 

Lalu kenapa kamu malu punya motor jelek? Takut diejek orang? Kata Aa Gym kita nggak ada urusan dengan orang yang ngejek kita, kalau ada yang ngejek itu mah urusan dia dengan Allah. Urusan kita, bagaimana menjaga hati supaya tidak kotor. Bagaimana bisa qanaah menerima titipan Allah apapun bentuknya. Tidak kufur nikmat. Ibarat kata, kalaupun kita nggak dikasih titipan aja kita nggak boleh protes, lah ini Allah sudah kasih titipan berupa motor yang bisa dipakai, memudahkan mobilitas kemana-mana, nganter kerja, nganter menuntut ilmu, nganter cari pahala. Kenapa masih merasa kurang? Toh motor butut, nggak butut cuma masalah bodi. Untuk fungsinya, selama sama-sama bisa digunakan berarti mereka sama aja.

Bukan berarti kita nggak boleh suka sama hal yang bagus. Boleh-boleh aja, kaga salah, tapi jangan sampai kita merasa mulia dengan hal yang bagus itu. Merasa lebih tinggi derajatnya cuma gara-gara barang yang BUKAN PUNYA KITA! Biasa sajalah terhadap barang-barang titipan ini.

MasyaAllah...

Alhamdulillah Tor, Motor, makasih ya sudah ngajarin banyak hal. Maaf kalau selama ini suka gengsi-gengsi nggak jelas saat bawa kamu ke suatu tempat, suka ngerasa kamu nggak pantes berderet dengan motor lainnya, ah padahal kan kamu yang selalu setia nemenin saya. Maaf Tor, besok lagi saya akan menunggagimu dengan penuh syukur. Bukankah kita sahabat seperjuangan. Mari kita salaman dulu ;)


Monday, October 13, 2014

Menikah Itu Masalah KehendakNya bukan Yang Lain


Semakin banyak teman yang menikah, semakin sering saya berkumpul dengan teman yang belum menikah. Maklum yang sudah menikah punya teman baru yang pastinya harus diprioritaskan :). Lalu, seperti biasa, pembicaraan akan dimulai dengan mengomentari teman yang menikah, alhamdulillah ya si Z sudah menikah, si W sudah menikah dan semua yang diawali dengan alfabet lain juga sudah menikah. Dan tiba-tiba hening...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
Heningnya kelamaan woy!

Oke lanjut, 
Keheningan ini tidak lain dan tidak bukan lantaran pada akhirnya-mau tidak mau- kami harus mikir- bully apa lagi ya, yang bakal dilontarkan pada single seperti kami ?

Manusia-manusia yang baru nikah itu ( ya kaga semua sih), semacam kurang afdhol kalo belum menanyakan kapan nyusul?  Nungguin apa sih? Apa sih yang bikin kamu nggak nikah-nikah? ke orang yang belum nikah, seolah-olah pernikahan mereka belum SAH jika belum menanyakan hal itu pada kami *oke saya berlebihan.

Well, well in 25 my age, sebenernya normal dan wajar aja sih semua itu terjadi. Dan alhamdulillah saya punya temen yang memacu saya buat nikah, bukan yang...

"Nggak usah nikah , buat apa kalau akhirnya kita cuma disakiti!" 
"Nikah tuh nggak enak , kita nggak bisa bebas lagi!"
"Kalau mau nikah, mending nikah sama diri sendiri aja yang bener-bener mengerti kita." Laar! sakit!

Alhamdulillah saya dikelilingi orang-orang yang masih memandang menikah untuk memuliakan sunnah. Menjauhkan diri dari fitnah dan ingin meraih barakah *aseek nge rhyme :p

But, my lovely brotha and sista, memaksa orang buat nikah secara berlebihan ( ya kali tiap ketemu ditanyain kapan nikah -_-) sesungguhnya membuat iman kalian terhadap takdir Allah dipertanyakan!

Nah lo!

Hei, kita sama-sama tau kan, bahwa menikah itu bukan masalah... Aku pengen nikah >> aku milih ikhwan/ akhwat >> dapet>> terus besoknya kita nikah. No! Nikah itu masalah kehendak Allah.

Kalau Allah belum berkehendak, mau kita udah dapet calon juga ga bakalan nikah-nikah. Tapi kalau Allah sudah berkehendak, meskipun seolah-olah gak ada orang yang minat sama kita *sounds so desperate, gampang banget bagi Allah untuk... Taraaaa ngirim prince charming ke rumah kita lalu besoknya kita nikah. Gampang sipil markupil, syaratnya apa? Allah BERKEHENDAK!

Sekarang, siapa yang bisa maksa Allah? Nggak ada! Termasuk para single yang agamanya masih separo ini. Jadi bagaimana cara kami menjawab pertanyaan kalian, kalau kami sendiri tidak tahu jawabannya?

Kami nggak nikah-nikah juga bukan karena nggak pengen nikah, bukan karena kami kaga ikhtiar (ada juga sih yang kaga ikhtiar, cuma pengen doang :p) , tapi beneran deh sebagian besar kami sudah berikhtiar, dan memang Allah belum berkehendak menikahkan kami dalam waktu dekat. Allah pasti tau kapan saat yang paling tepat untuk kami. Tenanglah, kalian tidak usah khawatir kami menjadi gila karena nggak nikah-nikah.

Dan meskipun dalam benak kami harus selalu tertanam keinginan menikah, karena menikah adalah sunnah. Tolong doakan kami supaya pikiran kami tidak hanya dipenuhi dengan perkara nikah, pacu kami untuk menyelesaikan segala amanah lain dengan baik. Tolong bantu ingatkan kami untuk lebih mendekatkan diri pada Allah saja, agar kami lebih bisa menjaga hati, memperbaiki diri, bukan sekadar untuk mengejar pasangan sehati, tapi semata-mata untuk meraih ridha Illahi. Sungguh saya khawatir esensi menikah jadi kurang termaknai dan terganti dengan perasaan takut dibully. Bukankah karena Allah juga kita menikah. Dan bukankah menikah, tidak menikah tetaplah Allah yang menjadi tujuan. Semoga kita semua sama-sama bisa meluruskan niat. Semoga kita selalu yakin bahwa takdir Allah selalu tepat!

Wallahualam bishawab.

*pict : we heart it

Tuesday, October 7, 2014

Hei, mungkin bahagia itu sudah tidak sederhana lagi

Yang kutahu bahagia itu sederhana, melihat mega biru beranjak jingga itu bahagia. Bertemu sahabat lama, itu bahagia. Mendengar suara rintik hujan sambil terpejam dalam kamar, itu bahagia. Mencium aroma kenangan di sepanjang jalan, itu bahagia. Bahagia adalah hal-hal spontan yang bisa dilakukan tanpa banyak berfikir.

Namun kini, bahagia nampaknya lebih bervariasi. Banyak orang tidak bisa bahagia hanya dengan makan enak. Untuk bahagia, mereka harus makan enak, lalu diabadikan dengan kamera dan diunggah ke sosial media - katakanlah facebook. Apakah cukup sampai di situ? Tidak. Harus ada pengakuan dari orang lain berupa jumlah suka atau jumlah komentar. Apa berhenti sampai di situ? Tidak, jumlah suka dan komentarnya harus banyak. Baru bahagia.

Betapa panjang jalan menuju bahagia. Bahagia tidak lagi menjadi istimewa. Bahagia jadi befikir bagaimana dia menarik minat dan perhatian orang lain. Bahagia bukan menjadi santapan hati lagi. Ia seperti lebih bersahabat dengan nafsu yang tidak pernah berhenti menuntut. Selalu haus diakui.

Bahkan saat ibadahpun, tak sedikit yang sulit bahagia hanya dengan datang membawa niatan baik, duduk mendengarkan petuah bijak, dan asik masyuk dengan Rabbnya... Bukankah saat menyentuhkan kening ke sajadah adalah momen penuh haru karena manusia berada sangat dekat dengan penciptanya? Apakah rasa buncah ini kalah dengan momen mengangkat kamera di depan khotib yang sedang berkhotbah lalu memfoto diri sendiri sambil menyisipkan kalimat "Baru dengerin khotib cemarah xi xi xi".

Yakin baru dengerin khotib ceramah? Bukan baru mikir, eum nanti poto di sebelah mana ya? Nanti selfie gaya apa ya?

Ah bahagia, kenapa akhir-akhir ini kamu jadi tidak sederhana lagi. Kamu terlalu banyak berpikir.
Bahagia... kamu butuh refreshing!

Harap dan Hidup


Ada yang bilang orang akan mati jika tidak memiliki harapan.Salah! Orang akan mati bila tidak memiliki nyawa hehe. Tapi harapan memang suatu hal yang penting. Saat kita punya sesuatu yang diharapkan, kita akan memperjuangkan harapan itu dan tidak ingin mati sampai harapan tersebut terwujud. Masa? Yah, tergantung sih, mungkin akan berbeda bagi masing-masing orang. Yang jelas bagi saya, harapan adalah sebuah motor penggerak amal.

Saturday, October 4, 2014

Hai, hati...

Hai, hati, boleh aku tanya sesuatu?
Ini tentang dirimu yang ada dalam diriku.
Hati, apa kabarmu?
Sungguh aku berharap engkau hidup di dalam sana
Dengan dzikirmu pada Allah, dengan ratapanmu pada Rabb kita.